Do the Best!

Kemarin siang ketika sedang makan siang sama Dara di Soto Lamongan, saya melihat konvoi motor segerombolan anak SMA yang mengenakan seragam penuh dengan coretan warna-warni pilox. Ternyata kemarin adalah hari pengumuman UN SMA. Lalu menjelang malam, saya mendapat kabar kalau pengumuman hasil SNMPTN undangan juga sudah diumumkan. Subhanallah, waktu berjalan begitu cepat ya Allah, batin saya dalam hati.

Saya merasa sangat beruntung dan bersyukur sekali menjadi salah satu dari keluarga besar Universitas Brawijaya. Terutama menjadi mahasiswa teknik. Mulanya saya merasa berkecimpung di dunia teknik itu berat, saya menilai seperti itu karena sudah merasakan bagaimana ospeknya. Lalu apa sekarang saya merasa menjadi mahasiswa teknik itu ringan? Haha siapa bilang.. berkat dukungan orang tua, keluarga besar dan sahabat-sahabat, saya harus kuat! Orang-orang terdekat saya selalu mengingatkan untuk selalu posstive thinking, sabar, dan ikhlas dalam ber-ikhtiar.

Belakangan saya sering pulang tengah malam dari kampus karena rapat konsep global probinmaba. Bahkan beberapa hari yang lalu saya dan beberapa sahabat tidak tidur 24 jam dan ‘menginap’ di kampus. Setelah malam itu, sebisa mungkin saya akan mengusahakan untuk pulang minimal nginap di kos teman. Karena begadang di kampus itu bikin tepar! Bayangin aja kami harus menyatu dengan dinginnya suhu di Malang apalagi malam hari. Brrrbrr…duiiiingiiin rek. Nggak mungkin saya perempuan sendirian nginap di BEM. Apa kata dunia??! Karena malam itu ada tugas mattekim yang deadlinenya mepet, mau nggak mau kami harus mengerjakannya malam itu juga.

But over all, semua yang saya alami hampir dua semester ini adalah pengalaman yang luar biasa dan sangat berharga :’) Alhamdulillah. Tiga minggu lagi saya ujian akhir semester. Tekad saya hanya satu, saya akan melakukan yang terbaik.

Kemilau Seni Budaya Nusantara I

Persiapan tari Pasambahan

Kemilau Seni Budaya Nusantara merupakan opening dari turnament futsal Minang Cup yang terselenggara atas inisiasi dari IPPMBK. IPPMBK adalah sebuah nama untuk komunitas pemuda Minang yang berada di Malang. Sesuai dengan namanya, pada acara ini turut mengundang organisasi daerah (orda) lainnya, seperti dari Lampung, Gayo, Maluku Utara, Lombok, Sambas, dan lain-lain. Masing-masing orda menampilkan kesenian khas daerahnya dan dalam acara ini semuanya menampilkan seni tari.

Foto bersama pemateri dan panitia Dialog Kebangsaan

Sebelum acara puncak digelar, yaitu penampilan tari-tarian, diadakan dialog bangsa yang mengundang tokoh-tokoh kebudayaan. Serangkaian acara ini dimulai pukul 10 pagi yang dibuka dengan tari Pasambahan. IPPMBK sebagai panitia sudah prepare sejak H- di lokasi tempat diselenggarakannya acara. Pada hari H, saya sendiri datang pukul setengah 7 pagi untuk siap-siap menari Pasambahan bersama 6 anggota IPPMBK lainnya.

Tari Indang, hayoo tebak saya yang mana ;)

Setelah dialog kebangsaan, dilanjutkan ke acara puncak yaitu penampilan tari-tarian dari berbagai daerah yang ditarikan oleh mahasiswa-mahasiswi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang kuliah di Malang. Penampilan pertama merupakan tarian dari Maluku Utara. Kemudian disusul dari daerah lainnya. IPPMBK menampilkan 3 tarian diantaranya tari Indang, tari Rantak dan tari Piring.

Tari Indang menggambarkan kekompakan dan keriangan anak-anak Minang saat sedang bersama-sama

Saat sedang menari Indang

Foto bersama penari lainnya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia

Acara ini berakhir pukul 5 sore. Secara keseluruhan acara Kemilau Nusantara ini sudah dipersipakan sejak satu setengah bulan sebelum hari H. Sejak fiksasi bakal diselenggarakannya acara ini, kami, dari IPPMBK yang berperan sebagai penyelenggara pun mengadakan latihan nari dan rapat rutin. H-3 kami sempat kewalahan mencari pengganti penari Pasambahan karena 2 penari ga jadi bisa ikut karena ada hal penting. Tapi untungnya teratasi dengan cepat. Alhamdulillah.

Bagi saya sendiri, saya beruntung dapat berpartisipasi dalam acara Kemilau Nusantara ini. Hikmah yng saya dapatkan adalalah bisa lebih dekat dengan keluarga besar IPPMBK, bisa mengobati kerinduan saya untuk menari lagi, belajar bagaimana menghandle sebuah acara besar dengan berbagai persoalan di dalamnya serta dapat mengenal sahabat dan kebudayaan dari beaneka ragam daerah. That’s like a great stuff~!! Makasih buat semuaanya. Alhamdulillah. Sukses Kemilau Nusantara tahun depan!

Menyelami Hati

Biarkan aku menyelam…
Menyelam ke dasar ‘lautan’ yang luasnya tak kan bisa kau ukur
dengan alat secanggih apapun

Biarkan aku menyelam…
Merasakan sejuknya nikmat air jernih
dari Sang Maha Pencipta

Biarkan aku menyelam…
mulai dari permukaan,
lebih dalam lagi,
lebih lebih dalam lagi,
hingga kutemukan habitat karang dan rumput laut
yang menakjubkan nan menawan
yang luar biasa, yang menciptakan kekaguman,
hingga kesyukuran
Bersahabat dengan penghuni lautan
yang indah, ramah dan bersuka cita

Biarkan aku menyelam hingga tampak
sinar terang matahari dan cahaya lembut bulan
atau kelap-kelip bintang
yang menembus
kaca-kaca air yang
kadang beriak
kadang tenang

Biarkan aku menyelam…
dan kembali ke permukaan
untuk bercerita
bahwa indahnya ketika ku
berproses dalam penyelaman
dan tiba di dasar batas penyelaman
mengucapkan tasbih tiada henti
tanda tiada kata selain,
tiap-tiap hal,
untuk bersyukur dan mengingat-Nya.

Penyelaman ini akan indah, percayalah.
Menyelam di ‘lautan’ yang tak dapat kau ukur,
walau dengan alat secanggih apapun.
Kusebut ia hati.

Empty

Biasanya orang yang tidak benar-benar sedang merasakan atau mengalami suatu hal, belum tentu bisa mengerti orang yang merasakan dan mengalaminya. Walaupun mereka pernah merasa sefikrah sekalipun.

That’s why..sometimes to be alone in the hectic world is nicer.

Beri saya satu alasan logis kenapa masih harus tetap survive.

Sensation of Ferris Wheel

Life is like playing ferris wheel

when entering

was enthusiastic

Then the Ferris wheel is moving slowly

to reach the top

At the beginning of the movement, is frightening

Plus a “crick-crick” in the engine when hiking

signify a sense of struggle

Although afraid, would not want to fight

the fear was

If it does not stand out and desperate

Then it will jump freely

Since there is no longer footing

No one helps

Therefore,

keep climbing

Slowly it will feel the beauty around underneath

Up at the top of it all will be wonderful

The sun is shining city brightly

Or moon, stars, and the glittering lights

Beautiful, amazing

Viewed from a distance looks awesome,

the rainbow

When it comes down again

Different sensations are different

Down gracefully, slowly

after enjoying the beauty of gratitude to god

So it went on the phase that occurs

dar

Malang City, April

Bercerita Tentang Takdir

 

Sudah tidak usah katakan waktu berlalu dengan cepat, saya yakin sudah ada ribuan orang yang berkata demikian. Lalu apa? Bukan apa-apa memang..jika terlalu dipikirkan, mungkin akan muncul banyak penyesalan. Tidak ada yang salah dengan penyesalan, tentu. Menyesal membuat kita belajar banyak hal. Belajar untuk tidak mengulangi apa yang membuat kita menyesal, belajar untuk melakukan setiap hal lebih baik lagi. Pertanyaan mendasarnya adalah wajarkah jika kita terpuruk dalam penyesalan?

“Dek, cita-cita adek apa?” Ini adalah pertanyaan, yang paling tidak, harus saya jawab sebanyak dua kali dalam satu tahun. Pertanyaan yang tampak lazim namun membutuhkan pemikiran yang mendalam. Abang saya, ia adalah pelontar pertanyaan ini. Setiap pulang dari perantauannya di ibukota, abang rajin sekali bertanya tentang passion saya. “Jadi pelukis, bang”, inilah jawaban saya ketika saya masih SD. Saat SD, saya gemar menggambar, memadu madankan warna, menggoreskan kayu karbon di lembar demi lembar pulp. Saat saya memenangkan sebuah kompetisi pertama dan mendapatkan uang tunai sebagai hadiahnya, saya membeli satu set krayon yang berisi lebih dari tiga puluh warna dengan menggunakan uang tersebut. Saat itu saya senang sekali karena memiliki krayon beraneka ragam warna. ”Jadi guru, bang,” ini adalah jawaban ketika saya SMP. Kebayakan orang dewasa bilang bahwa menjadi pelukis bukanlah sebuah cita-cita. Karena masih polos (haha), saya pun memutuskan untuk mengganti cita-cita saya. Mama sangat mendukung cita-cita saya ini, “anak perempuan memang bagusnya jadi guru aja.”

Sebelum masuk SMA, saya berkunjung ke Jakarta dan ditengah perjalanan pulang dari jalan-jalan, abang memberi saya masukan, “I know what you want, your passion, I suggest you to be a consulate. First you must be an international relation college student, you can choose Unpad. But, first of all, you should know more about it.” Setelah saat-saat quality time itu, saya pun mencari tau seluk beluk tentang konsulat, duta besar dan hubungan internasional. Then, I interested. Awal masuk SMA saya pun memasang tekad untuk kuliah di jurusan HI. Dan sejak kelas tiga, setelah fokus saya tertuju pada SNMPTN, saya memilih Jawa sebagai pijakan untuk mengembangkan diri. Lalu sekarang apakah saya telah menjadi mahasiswi HI di Unpad?

Pada postingan #upgrading sudah saya ceritakan bahwa masa-masa setelah UN adalah masa-masa tergalau dalam hidup saya. Saya bingung menentukan arah, seperti tersesat di jalan yang sudah saya bangun sendiri. Pada akhirnya saya pasrah, karena jalan menuju HI seperti tidak diridhoi atau belum mungkin. Ada banyak hal tak terduga yang menghalangi saya untuk memperjuangkannya, dengan sekuat tekad saya perjuangkan tapi yang ada justru ketidakharmonisan yang terjadi. Akhirnya saya mengalah..atau justru kalah, entahlah. Yang pasti yang saya tau, secara seketika, saya merubah haluan saat saya sedang berada di langit, di dalam pesawat menuju ibukota untuk tes di salah satu universitas swasta, ya, memperjuangkan tekad yang sama.

Dan disinilah saya berada sekarang, di sebuah universitas negeri di kota Apel, Malang. Menjadi mahasiswa teknik adalah sebuah takdir di luar angan-angan saya. Namun, bukankah apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita? Teknik, haha, lucu ya, saya seperti bermain judi dengan kehidupan saya. Teknik kimia menjadi takdir saya saat ini. Takdir ini mengharuskan saya berkutat dengan rantai karbon, rangkaian mesin, asam-basa, dan tabung-tabung reaksi berskala desimeter pangkat tiga. Ya Tuhan, berilah aku kekuatan menjalaninya.

Kembalilah

“Semenjak mendapatkan masalah yang bertubi-tubi, gue jadi lalai menjalani keseharian” –seorang teman.

Teman saya benar, ketika kehidupan dihampiri berbagai masalah yang datang dalam satu waktu, ada masanya manusia hanyut di dalamnya. Dan masa yang lain berhasil kembali ke permukaan.

Astagfirullah..satu tahun yang lalu, masalah-masalah itu menghampiri, dan menjadi virus untuk kehidupan yang selanjutnya..menyerang sel-sel lobus hingga nyaris mengikis hati yang hampir mati rasa. Dalam  satu waktu ini, saya merasa ada yang hilang dalam diri saya. Suatu kesatuan yang saya bangun petak demi petak roboh tanpa ucapan selamat tinggal. Begitu cepat, hingga saya belum mempersiapkan apa-apa. Tak heran jika dalam satu waktu ini saya merasa tidak seutuhnya menjadi diri sendiri.  Tuhan Maha Baik, kesempatan itu masih ada. Lupakan satu tahun ke belakang, ingat kembali waktu-waktu sebelum satu tahun itu. Perbaiki untuk waktu-waktu ke depan. Sudah saatnya kembali…sebagaimana mestinya.

Spasi

Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna jika tidak ada jeda??

Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi??

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak??

Dan saling menyayang bila ada ruang??

Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.

Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.

JIwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.

Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.

Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring.( spasi, filosofi kopi)

My Glasses

When I was the second grade in elementary school, my parent suggested and has me to check up at eye physician. They talked probably there’s problem in my eyesight. Well, I attended their suggestion. Then the doctor said that my eyes have minus and I should wear eyeglasses. At the moment, I didn’t want because I felt disgraceful and when I wore it I seem weird and nerd. My parent bought it to me but I really didn’t want to wear it.

I felt my eyesight still okay and I could see anything clearly so I think I didn;t need it yet. Until I was sixth grade in the same level school, I started feeling that my eyesight was not good again. I looked everything seems blur. I couldn’t see everything that sit far away from me. That condition make me mess up and finally when I was first grade in junior high school, I used it.

At the first, the minus only under one, but every year the minus more and more. And now till more than five. It’s mean I have wore it around seven years. Actually I want to get off it but It’s impossible until i train the opration named lasik. The procedure of operation are I must be more than twenty years old and, of course, it’s expensive.

I hope someday I could get off this stuff for ever. I want to catch sight of all normally.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.